KITE ADE... TAPI KENAPE KAYAK KAGAK ADE... NYOK BANGUN...!
|
|
Wednesday, September 22, 2004
KLASIFIKASI MASYARAKAT BETAWI
Sebuah penelitan pada tahun 1989-1990 dan 1991-1992 menunjukkan bahwa penduduk asli kota Jakarta yang biasa dipanggil sebagai orang Betawi dapat dibedakan atas macam-macam kelompok. Mereka cukup berbeda dalam arti latar belakang sosial-ekonomi serta lokasi distribusi sebagai akibat perjalanan sejarah yang berbeda. Untuk istilah yang sering dikenakan pada kelompok ini, kami menggolongkan mereka sebagai Betawi Tengah, Betawi Pinggir dan Betawi Udik. Perlu dicatat bahwa pembagian ini sermata-mata untuk kepentingan dan kemudahan analisa, kenyataannya adalah adanya kelompok-kelompok Betawi ini perlu disadari dan ditekankan dalam melaksanakan penelitian. Adapun keberadaan kelompok-kelompok Betawi ini sendiri bukanlah hal yang baru. Masalahnya amat sedikit pengamat yang menyadarinya, dan lebih sedikit lagi dari mereka yang mempedulikannya. Salah satu penyebabnya adalah bahwa para pengamat ini menganggap bahwa kelompok satu adalah tipikal Betawi sedangkan kelompok lainnya bukan Betawi. Orang Betawi yang hidup di daerah kota dipanggil “Betawi Kota”, mereka menyebut dirinya sebagai penduduk asli kota Jakarta. Orang Betawi yang ada di pinggiran kota Jakarta dinamakan 'Betawi Ora'. Dalam sudut pandang saya, orang “Betawi Ora” adalah yang seharusnya “sebagai penduduk asli kota Jakarta karena mereka yang secara ketat dan konsisten menyandang tradisi Betawi, sementara orang Betawi Kota amat dipengaruhi oleh tradisi di luar keBetawian sehingga cara hidup mereka berbeda dari “Betawi Ora”. Sumber-sumber tertulis yang ada mengenai Betawi tidak mempersoalkan kelompok Betawi mana yang mereka bicarakan. Akibatnya kesimpulan-kesimpulan yang ditarik bersifat generalisasi walau pun sebenarnya yang mereka bahas adalah kelompok Betawi tertentu. Padahal hasil penelitian kami tersebut membuktikan bahwa mengabaikan kenyataan adanya kelompok-kelompok Betawi, telah membawa pada kesimpulan-kesimpulan yang tidak representatif tentang Betawi sebenarnya, yang pada gilirannya membawa pada stereotipe negatif tentang kelompok ini tidaklah mengherankan kalau kesimpulan-kesimpulan yang ditarik ini kurang dapat diterima oleh orang Betawi sendiri karena kebetulan mereka tidak berasal dari kelompok yang diteliti. Sampai dengan beberapa waktu yang lalu diantara orang Betawi masih amat terbatas persepsi keBetawiannya. Sebagai tradisi Betawi, yang ini juga termasuk tradisi Betawi karena tradisi ini dipakai oleh orang Betawi sebagai ekspresi ragam kehidupan mereka sehari-harinya, tetapi ini adalah pandangan pengamat yang berbeda dari pandangan orang Betawi sendiri seringkali tidak mau mengakui itu sebagai bagian dari tradisi Betawi. Orang Betawi Tengah misaInya tidak mengakui tradisi orang Betawi Pinggir dan sebaliknya. Sehubungan dengan hal keBetawian, maka dirasakan penting untuk melukiskannya secara singkat macam-macam kelompok Betawi yang ada sehingga gambaran tentang ragam keBetawian haruslah jelas. Dengan demikian kalau orang berkesimpulan tentang orang Betawi maka harus jelas untuk kelompok mana mereka bicara; sehingga kesimpulan mereka relevan hanya untuk kelompok yang ditulisnya. Uraian berikut mengenai Betawi Tengah, Betawi Pinggir dan Betawi Udik mencoba memberi kesempatan kepada pembaca untuk mengerti kelompok-kelompok ini dalam arti keBetawian. Peta berikut mencoba memberikan lokasi persebaran kelompok-kelompok Betawi di Jakarta dan sekitarnya. Kalaupun di sini kami membuat penggolongan-penggolongan pada orang Betawi bukanlah berarti Betawi dipecah-pecah ataupun di beda-bedakan maupun mengingkari adanya Betawi sebagai satu kesatuan. Penggolongan ini sekedar dimaksudkan untuk memperjelas masalah bila berbicara tentang Betawi sehingga tidak terbawa pada kesimpulan yang tidak representatif. Adapun penggolongan atas sekelompok orang merupakan hal yang biasa. MisaInya, orang Batak dapat dibedakan atas orang Batak Karo, Batak Toba, Batak Mandailing dan sebagainya begitu juga dengan orang Minangkabau yang juga dapat dibedakan atas orang pesisir, orang darat dan sebagainya. Orang Jawa seringkali dibedakan oleh para pengamat dalam dunia ilmiah maupun orang awam atas orang Jawa santri, Jawa priyayi dan Jawa abangan. Hal yang sama terjadi pada suku bangsa lainnya di dunia. Pengelompokkan ini disebabkan karena mereka mempunyai gaya hidup ataupun kebudayaan yang berbeda-beda sehingga pengelompokkan ini akan sangat membantu dalam mengerti suku-bangsa yang bersangkutan.
BETAWI TENGAH
Populasi penduduk asli Betawi yang bermukim di daerah kota saat ini sedikit sekali. Kebanyakan dari mereka tinggal secara berkelompok dari satu keturunan atau kerabat. Saat ini mereka masih terlihat di daerah Sawah Besar, sebagian kecil di Taman Sari, Gang Ketapang, Kebon Jeruk, Krukut dan daerah Pekojan. Sebagian dari mereka masih menganut beberapa gaya hidup tempo dulu. Hal ini dapat kita lihat pada acara-acara perkawinan, lebaran, khitanan, maupun didalam kehidupan mereka bermasyarakat. Walaupun ada pergeseran budaya pada generasi muda Betawi, baik itu pria maupun wanita namun dalam soal agama mereka tetap memegang teguh, seperti mengaji bagi anak-anak usia belasan tahun, majlis ta'lim bagi kaum ibu dan tadarusan bagi kaum pria. Bahasa yang seringkali digunakan oleh mereka adalah dialek Betawi Tengah. Mereka yang termasuk Betawi Tengah adalah mereka yang dalam sejarah perkembangan orang Betawi berawal menetap dibagian kota Jakarta yang dulu dinamakan keresidenan Batavia dan sekarang termasuk Jakarta Pusat. Lokasi ini merupakan bagian dari kota Jakarta yang paling urban sifatnya. Bagian inilah yang dalam tahap-tahap permulaan kota Jakarta dilanda arus urbanisasi dan modernisasi yang paling tinggi. Salah satu akibatnya adalah orang Betawi yang tinggal di daerah ini adalah orang yang paling tinggi tingkat kawin campurnya bila dibandingkan dengan orang-orang Betawi yang tinggal di bagian pinggir kota Jakarta ataupun suku-suku lainnya di Jakarta. Berdasarkan tingkat ekonomi mereka, orang Betawi yang tinggal di tengah-tengah kota Jakarta bisa dibedakan, orang gedong ataupun sebagai orang kampung. Pemberian istilah ini tampaknya berdasarkan tempat tinggal mereka. Dalam arti keBetawian maka keberadaan orang gedong disadari ataupun tidak akan kurang diakui oleh orang kampung. Tetapi tidaklah demikian halnya orang kampung, dikarenakan gaya hidupnya menyebabkan kehadiran mereka sebagai suku Betawi cukup dirasakan sebagai bagian dari tradisi. Akibat lain dari proses modernisasi dan urbanisasi di bagian pusat kota Jakarta, maka banyak orang Betawi kota yang menjual tempat tinggalnya dan pindah ke bagian yang lebih pinggir dari kota Jakarta yang masih mempunyai harga tanah yang murah. Daerah ini sebenarnya adalah domisili orang Betawi Pinggir. Oleh karena itu kini banyak orang Betawi Tengah yang terdapat di daerah Betawi Pinggir. Bahkan ada juga dari mereka yang pindah ke daerah Betawi Udik. Banyak dari orang Betawi Pinggir dan orang Betawi Udik tersebut tidak mengetahui bahwa tetangga baru mereka adalah orang Betawi juga tetapi karena mereka menyandang pola dan gaya hidup yang berbeda, orang Betawi udik menganggap mereka (Betawi pendatang.red.) sebagai kebudayaan Betawi yang kontras dengan image yang ada mengenai orang Betawi, maka orang Betawi Tengah (orang gedong) berpendidikan tinggi. Banyak responden kami bahkan dari generasi yang lebih tua mempunyai pendidikan tinggi. Generasi sekarang bukan saja mencapai pendidikan universitas tapi bahkan banyak anak mereka yang sekolah di luar negeri. Dan Mereka yang tergolong sebagai Betawi Udik menurut hemat kami adalah penduduk asli di sekitar Jakarta termasuk Bo-ta-bek. Dahulu daerah ini termasuk daerah administrasi Batavia, tetapi kini mereka termasuk daerah administrasi Jawa Barat (Iihat bagian terang pada Peta Batavia) . Oleh karena itu secara kultural mereka adalah orang Betawi tetapi karena perubahan batas administratif maka kini termasuk orang yang tinggal di daerah administratif Jawa Barat.
BETAWI UDIK
Ada dua tipe Betawi Udik, yaitu mereka yang tinggal di daerah bagian Utara Jakarta dan bagian Barat Jakarta maupun Tangerang, mereka sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Cina. Dan lainnya adalah mereka Yang ditinggal di sebelah timur maupun di Selatan Jakarta, Bekasi dan Bogor Yang sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Sunda. Mereka umumnya berasal dari kelas ekonomi bawah Yang pada umumnya lebih bertumpu pada bidang pertanian. Taraf pendidikan mereka sangatlah rendah bila dibandingkan dengan tahap pendidikan yang dicapai oleh orang Betawi Tengah dan Betawi Pinggir. Peran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari orang Betawi Udik berbeda dengan peran agama Islam di antara orang Betawi Tengah dan Betawi Pinggir di mana pada kedua kelompok Betawi terakhir tersebut agama Islam memegang peran yang amat sangat penting dan menentukan dalam tingkah laku pola kehidupan mereka sehari-hari. Perlu dicatat bahwa kini telah terjadi perubahan dalam pekerjaan dan pendidikan di antara orang Betawi Udik di mana secara perlahan-lahan tingkat dan pola pekerjaan mereka mendekati pola pekerjaan dan pola pendidikan orang Betawi Tengah dan Betawi Pinggir.
BETAWI PINGGIR
Sementara orang Betawi Tengah adalah lebih superior dalam arti latar belakang sosial ekonomi clibandingkan dengan kelompok Betawi lainnya, orang Betawi Pinggir lebih superior dalam arti pendidikan agama. Sejak dulu, orang Betawi Tengah cenderung menyekolahkan anaknya ke sekolah umum sebagai pendidikan formal mereka, maka orang Betawi Pinggir menyekolahkan anak-anaknya ke pesantren sebagai pendidikan formal mereka. Itu sebabnya orang Betawi menolak bila mereka dianggap tertinggal dalam arti pendidikan bila dibandingkan dengan kelompok lainnya di Indonesia, yang benar adalah mereka mempunyai bentuk pendidikan yang berbeda dengan suku lainnya. Walaupun orang Betawi Tengah menempuh pendidikan formal di Sekolah Umum, pendidikan agama menurut mereka merupakan bagian yang sangat penting didalam kehidupan mereka. Proses bermasyarakat orang Betawi Tengah ini tidak dapat dipisahkan dari pola kehidupan beragama. Proses sosialisasi ini telah membentuk kehidupan beragama sebagai bagian dari kehidupan mereka sehari-hari. Jadi meskipun orang Betawi Pinggir memberi perhatian besar pada pendidikan agama bila dibandingkan dengan Betawi Tengah, pendidikan agama tetap merupakan amatlah penting dalam kehidupan orang Betawi Tengah. Perbedaan persepsi antara orang non-Betawi dengan persepsi orang Betawi mengenai Betawi disebabkan karena pengetahuan orang non-Betawi adalah gambaran mengenai orang Betawl yang hidup dipinggiran kota Jakarta dan umumnya berasal dari lapisan sosial ekonomi bawah. Amat sedikit tulisan tentang orang Betawi yang ada ditengah-tengah kota Jakarta. Kalaupun ada maka tulisan ini umumnya tentang orang Betawi dari kelas bawah (Betawi Tengah - orang kampung, red) dan sejauh pengetahuan kami tidak ada tulisan tentang kelas menengah atas ataupun kelas atas Betawi (Betawi Tengah - orang gedong.red). Tampaknya hal ini disebabkan karena mereka yang tertarik pada keBetawian ataupun menulis tentang orang Betawi tidak menyadari bahwa orang Betawi Tengah, khususnya orang gedong, adalah Ora Betawi (Betawi ora.red), ataupun orang Betawi Tengah tidak menarik untuk ditulis karena gaya hidup mereka oleh orang luar dianggap tidak Betawi; ataupun mereka sendiri yang menyembunyikan keBetawian mereka, saya sendiri berpendapat bahwa mungkin saja mereka kurang menarik untuk ditulis oleh para pengamat Betawi tapi ini sama sekali tidak berarti bahwa mereka tidak mewakili kelompok Betawi. Kenyataan ini menyebabkan seringkali para penyaji masalah - masalah keBetawian kurang memperhatikan kenyataan akan adanya kelompok-kelompok Betawi yang masing-masing dalam beberapa hal cukup berbeda satu dengan lainnya. Data kwantitatif berikut memberikan gambaran dalam bentuk angka mengenai perbedaan orang Betawi Tengah, Betawi Pinggir dan Betawi Udik dalam arti latar belakang pekerjaan dan pendidikan mereka.
TABEL
Distribusi persentase Tingkat Pendidikan responden Betawi Tengah 1989
Sekolah Umum: Sekolah Dasar Sekolah Menengah 31 Universitas 65
Sekolah Agama: Sekolah Dasar 4 Universitas
TOTAL 100 (Sumber : Shahab, 1994:117.)
TABEL Pendidikan orang Betawi Pinggir 1978
Jenis Pendidikan Sekolah umum 8 Sekolah Agama 11 Kombinasi 81 Total 100
Tingkat pendidikan Sekolah Dasar 17 SLTP 4 SLTA 11 Universitas 7
TOTAL 100
Tingkat Pendidikan Sekolah Umum: Sekolah Dasar 80 SLTP 11 SLTA 7 Universitas 2
TOTAL 100 (659). (Sumber.Shahab.1982, 74)
Tabel ini menunjukkan kontras pendidikan antara Betawi Tengah dengan Betawi Pinggir, terutama pada tingkat universitas. MisaInya 65% responden Betawi Tengah berpendidikan Universitas, dibandingkan dengan betawi pinggir Betawi Tengah lebih pada pendidikan umum sedangkan Betawi Pinggir lebih berorientasi pada pendidikan agama. Kontras dengan Betawi tengah dengan Betawi Pinggir, desa Buaran, Tangerang, menunjukkan bahwa 35% dari respondennya tidak pernah sekolah, tidak sekolah umum maupun sekolah agama. 45% tidak pernah menamatkan pendidikan SDnya dan 5% tamat sekolah Lanjutan Pertama.
TABEL
Distribusi persentase jenis Pekerjaan responden Betawi Tengah Tidak bekerja 8 Wiraswasta menengah 8 Wiraswasta 35 Pegawai rendah swasta 8
Pegawai tinggi swasta 8 Pegawai menengah tinggi 38
TABEL
Distribusi persentase jenis Pekerjaan responden Betawi Pinggir, Tidak bekerja Petani 12 Tukang Becak 4 Pedagang keliling Pekerja pabrik 14 Guru 4 Lain-lain 3
TOTAL 100.0 (430)
Penelitian Kurim terhadap orang Betawi Udik menunjukkan bahwa umumnya para responden bekerja sebagai petani, pedagang keliling dan buruh. Memang tahun dari ketiga penelitian tersebut di atas cukup berbeda di mana justru yang terbaru adalah penelitian antara orang Betawi Tengah tetapi tidak perlu terIalu bersandar pada distribusi persentase. Tabel ini cukup dilihat sebagai gambaran saya banyak Betawi Tengah umumnya pegawai atau wiraswasta menengah atas. Hampir tidak ada yang menjadi pekerja tradisional. Ini kontras dengan orang Betawi Pinggir dan Betawi Udik. Walaupun kini terjadi pergeseran dan peningkatan dalam bidang pekerjaan pada Betawi Pinggir dan Betawi Udik, kami percaya bahwa perubahan ini tidak merubah banyak kesimpulan yang kami sajikan di atas. Uraian lengkap pada Yasmine Shahab (1993) dan Yasmine Shahab (1995). Untuk kepentingan analisa orang.
Peta ini kami susun atas bantuan dari Irwan Syafi’i yang aktif dalam BAMUS BETAWI Dan Lembaga Kebudayaan Betawi.
Tingkat kawin antar suku-bangsa di Betawi Tengah cukup tinggi seperti tampak dari hasil penelitian kami pada tahun 1989 dimana tingkat perkawinanantar suku-bangsa diantara generasi orangtua responden sebesar 30.8%, menjadi 73% pada generasi responden. Tingkat yang tinggi ini bukan hanya pada orang Betawi Tengah, tapi juga untuk orang Betawi lainnya. Penelitian di Condet, daerah dominan Betawi di pinggiran Jakarta, menunjukkan 52% penduduknya kawin dengan orang satu desa dan 46% kawin dengan orang Betawi dari desa lain (Shahab, 1982. 37). Penelitian oeh Wornaen diantara 591 pelajar di Jakarta menunjukkan 24% dari mereka berasal dari orangluarantar etnik. Penelitian yang dilakukan di delapan propinsi di Indonesia menunjukkan kawin antar sukubangsa masing-masing berkisar antara 2-3% (Warnaen, 1978,,140). Pengalaman kami mengadakan penelitian diantara elite Betawi menunjukkan bahwa mereka yang berpendidikan tinggi, khususnya yang mengirim anaknya belajar ke luar negeri didominir oleh Betawi Tengah. Walaupun demikian perkembangan yang ada dalam dekade terakhir membawa pada argumentasi dalam waktu yang cukup singkat dimasa mendatang kelompok elite Betawi dalam arti pendidikan umum ini akan diwarnai oleh ketiga kelompok Betawi, Betawi Tengah, Betawi Pinggir dan Betawi Udik. Perbandingan yang luas dan mendalam mengenai ketiga kelompok Betawi ini dapat dibaca dalam tulisan Shahab.Y (1993). (Publikasi Babe online)
Posted at 02:17 pm by ahmad buchori
Permalink
Friday, September 17, 2004
BETAWI DI TELEVISI: WAJAH BETAWI ATAU JAKARTA MASA KINI
Sinetron komedi berlatar belakang Betawi, telah melahirkan stigma buruk mengenai masyarakat Betawi yang sesungguhnya ramah dan Islami. Sinetron berlatar belakang kehidupan masyarakat dan budaya Betawi, makin marak saja. Sebut saja Julia Anak Gedongan, Duk Duk Mong, Wong Cilik, O-Jekri, Gado Gado Betawi, Unjuk Gigi, Norak Tapi Beken, Kecil-Kecil Jadi Manten, Ganteng Ganteng Kok Monyet, Bajaj Bajuri serta Bule Betawi.
Banyak sinetron berseting Betawi yang mampu meraih rating, tinggi. Fenomena ini, dalam pandangan SM Ardan, menggambarkan bahwa Betawi 'memang laku di jual'. Ardan sendiri telah lama menggeluti budaya Betawi. Tahun 1970, ia mengangkat Lenong di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Menurut Ardan, cerita mengenai Betawi memang memiliki daya pikat. ''Hal ini sudah terjadi saat Firman Muntaco menuangkan sketsa-sketsanya di koran dalam rubrik Gambang Djakarte sekitar tahun 1950-an,'' katanya. Tak hanya melalui media cetak, popularitas Betawi juga berkembang melalui lagu --antara lain Lilis Suryani, kemudian film-film yang dibintangi Benyamin S tahun 1970-an.
Namun demikian, Ardan menangkap ada perbedaan dari waktu ke waktu. Dulu, kata Ardan budaya Betawi 'tampil sempurna'. Artinya, dari pemilihan pemain, sutradara, sampai materi ceritanya diusahakan orang Betawi dengan memperhatikan wilayahnya masing-masing. Misalnya, menggunakan dialek Betawi pinggiran atau Betawi tengah.
Sekarang, sinetron menggunakan bahasa Indonesia berdialek Betawi dengan pemain yang kebanyakan bukan orang Betawi. ''Saya tidak mempersoalkan Betawi asli atau bukan. Menurut saya, mereka yang lahir dan besar di Jakarta, dia pasti orang Betawi. Saya lahir di Medan, tetapi sejak umur enam bulan sudah di Jakarta, ya, jadi Betawi, berpikir seperti orang Betawi,'' tambah Ardan.
Pilihan pada latar Betawi diangkat ke layar kaca atau lebar bukannya tanpa alasan. Selama ini Betawi juga diakui Sutradara Ali Sahab memang menarik untuk diangkat. Tema ini menjadi pilihan banyak produser. Hanya saja, kebanyakan dari sinetron itu menangkap realitas masyarakat Betawi pinggiran. Gambaran Betawi seperti ini menurut Ali Shahab, identik dengan keterbelakangan, atau Betawi yang gagap menghadapi perkembangan dunia modern.
Sutradara senior yang juga tokoh Betawi ini juga menyayangkan munculnya sejumlah sinetron komedi dengan seting budaya Betawi yang belakangan ini banyak ditayangkan di stasiun televisi swasta. Sebab, cerita dalam sinetron-sinetron tersebut jauh dari realitas kultur Betawi.
Tayangan-tayangan tersebut, katanya, memberikan stigma bahwa masyarakat Betawi terbelakang. Yang muncul ke permukaan adalah hal-hal negatif, yang sebenarnya bukan representasi dari masyarakat Betawi yang sesungguhnya. ''Kebanyakan sinetron Betawi tersebut menggambarkan orang Betawi yang bodoh, tukang kawin serta dengan menggunakan bahasa-bahasa Betawi yang vulgar dan kehidupan orang Betawi dengan pakaian-pakaian yang seronok. Hal itu jauh dari kehidupan masyarakat Betawi sesungguhnya,'' ungkap Ali.
Ali menuding sinetron seperti itu, secara subtansial telah ikut merusak kebudayaan Betawi. Menurutnya, hampir rata-rata sinetron ber-seting etnis Betawi -yang kini ditayangkan di stasiun teve swasta- jauh dari kenyataan masyarakat Betawi yang ramah dan islami. ''Jelas-jelas tidak sesuai dengan realitas orang Betawi. Hal itu sangat merusak citra masyarakat Betawi. Kehidupan masyarakat Betawi itu sangat Islami,'' tambahnya.
Sebagai gambaran, sutradara serial legendaris Rumah Masa Depan yang pernah ditayangkan TVRI itu, menyebut sejumlah sinetron yang menggambarkan kehidupan masyarakat Betawi secara tidak proporsional. Ia menunjuk sinetron Norak Tapi Beken, Kecil-Kecil Jadi Manten, Ganteng Ganteng Kok Monyet, Bajaj Bajuri dan beberapa sinetron lainnya. ''Tidak pernah ada orang Betawi, apalagi anak perempuan yang sampai digunduli, berperilaku seperti di sinetron Kecil Kecil Jadi Manten. Anak-anak Betawi, umumnya sangat terdidik secara Islami. Tapi, di sinetron itu seolah-olah orang Betawi sangat primitif, tidak berbudaya,'' ungkap Ali prihatin.
Perilaku anak-anak muda Betawi yang tercermin di sinetron tersebut, kata Sutradara Komedi Terbaik dalam Festival Sinetron Indonesia (FSI) 1996 itu, telah mengundang keprihatinan kalangan masyarakat maupun budayawan Betawi. Mereka mengeluh, karakter orang Betawi yang muncul di televisi sama-sekali tidak masuk akal. ''Bagaimana mungkin, istri berani menantang dan membentak-bentak suaminya. Juga digambarkan dalam sinetron, anak perempuan Betawi hamil dulu baru menikah. Ada juga sosok laki-laki orang Betawi yang doyan kawin. Itu jelas sangat memberikan stigma yang buruk,'' ujar Ali.
Tabiat orang Betawi, ujar Ali, sangat sederhana dan terbuka. ''Jadi, ketika di dalam sinetron digambarkan orang-orang Betawi berperilaku kasar, tidak berbudaya dan antipendatang atau tamu, jelas penggambaran itu tidak relevan,'' katanya sambil menghimbau dan mengajak para pengelola stasiun televisi untuk lebih selektif. ''Televisi punya andil besar atas rusaknnya citra masyarakat Betawi. Padahal, ada upaya-upaya masyarakat seniman Betawi yang mencoba mengcounter jenis sinetron seperti itu, tapi selalu mandek.'' Apa yang diungkapkan Ali Shahab juga ditanggapi senada Alya Rohali, artis sinetron dan mantan none Jakarta. ''Orang Betawi generasi saya banyak yang sarjana, punya karier, berpikiran modern, dan berpandangan maju. Ini tidak seperti yang digambarkan dalam sinetron,'' ujar Alya.
Hal senada juga diungkapkan Wakil Ketua KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), Sinansari Ecip. Ecip menilai sinetron Betawi yang ada sekarang itu tidak membumi. ''Seharusnya sinetron itu harus membumi dengan menggambarkan realita budaya Betawi sesungguhnya,'' ujar Ecip.
Namun bagi Yazman Yazid, sutradara sekaligus penulis skenario sinetron Kecil-Kecil Jadi Manten tidak mempersoalkan apakah sinetronnya berusaha mengangkat budaya Betawi atau tidak. ''Saya tidak paham tentang budaya Betawi yang benar itu seperti apa. Apa yang saya tulis untuk Kecil-Kecil Jadi Manten merupakan refleksi kenangan saya selama puluhan tahun hidup di Jakarta,'' ungkap Yazman yang merasa orang Jakarta walau dilahirkan di Sumatera Barat ini. (Republika on-line/ruz/110704)
Posted at 11:31 am by ahmad buchori
Permalink
Friday, September 10, 2004
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI PERKAMPUNGAN BUDAYA BETAWI
Sekelompok remaja berbaju koko siang itu baru saja selesai berlatih rebana Ketimpring di teater terbuka sebelah sekretariat Perkampungan Budaya Betawi (PBB) Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Timur. Pepohonan yang rindang seolah mengubah terik matahari menjadi semilir angin, membuat sebagian dari 20-an remaja itu menikmati istirahat mereka dengan rebahan di panggung sambil ditemani lantunan rekaman Gambang Kromong Selendang Betawi lewat pengeras suara. "Awalnya memang sulit mengajak warga melestarikan kesenian Betawi, tapi kemudian banyak orang tua mengantar anaknya ke sini untuk berlatih kesenian Betawi, malahan yang remaja datang sendiri minta ikut latihan," kata Imron S Pd, penanggung jawab harian PBB sambil memperhatikan para "binaannya". Imron mungkin bisa menarik napas lega karena masyarakat sudah mau menerima program-program PBB yang dicanangkan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, 20 Januari 2001. Pelatihan Lenong, Gambang Kromong, Rebana, Tari Betawi serta Silat Beksi dilakukan hampir setiap hari, biasanya pada malam, namun setiap menjelang pergelaran latihan menjadi intensif mulai siang hari, seperti yang dilakukan para remaja "Rebana" itu. Pemberdayaan seni hanya salah satu dari program PBB, program lainnya yang sudah dirintis adalah wisata agro. Di sana pengunjung dapat membeli buah dari pepohonan di kebun di halaman rumah. "Yang khas sini adalah Blimbing Dewi, sudah beberapa rumah yang menanam, tapi yang paling banyak dan terkenal adalah dari kebunnya Pak Siran, Presiden saja pernah memanen di sana," kata Imron. Pohon Blimbing Dewi berbuah tiga kali setahun sehingga boleh dibilang tidak mengenal musim, buahnya terkenal manis dan bentuknya menarik, pembeli pun harus rajin mencari tahu kapan panen terdekat. Karena banyak yang mengincar, harganya kadang Rp4.000 per buah. Buah lainnya yang mulai jadi primadona adalah Rambutan Cilebak dan Rambutan Cipelat, sedangkan yang sedang diperkenalkan kepada penduduk untuk ditanam antara lain Duriaan Sitongkong, Durian Cipaku, Menteng, Duku Condet dan Buni. PBB yang berudara sejuk, sekitar 24 hingga 26 derajat Celsius, terletak di ketinggian tujuh meter dari permukaan laut, luasnya 165 hektar, termasuk dua danau alam yaitu Setu Babakan (32 Ha) dan Setu Mangga Bolong (11 Ha). Terdapat 49 RT di PBB, terdiri dari seluruh RW08 dan RW07, sebagian RW06 dan sebagian kecil RW05 dengan jumlah warga 15.353 jiwa atau sekitar 4.000 KK. Batas utara adalah Jalan Moch. Kahfi II, batas timur Jalan Desa Putera, Jalan Mangga Bolong Timur, batas selatan Jalan Tanah Merah, Jalan Srengseng Sawah, Jalan Puskesmas serta batas barat Jalan Moch. Kahfi II. Menurut rencana induk (master plan) PBB yang disusun tahun 2000, penduduk Betawi mencapai 50 persen dan pekerjaan terbesar adalah petani yaitu 17,2 persen. Selama 2003, pada Januari tercatat 2.450 pengunjung, Februari 2.226 pengunjung, Maret 2.825 pengunjung, April 2.525 pengunjung dan Mei 4.970 pengunjung. "Hampir semuanya wisatawan lokal, kurang dari sepuluh yang wisatawan mancanegara. Selama ini sudah sekitar 10 mahasiswa yang menjadikan PBB objek penyusunan skripsi, kebanyakan para mahasiswa jurusan arsitektur," kata Imron. Kelestarian kawasan itu ditetapkan melalui Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 92 Tahun 2002 tentang Penataan Lingkungan Perkampungan Budaya Betawi Kelurahan Srengseng Sawah, Jagakarsa Jakarta Selatan. Keputusan gubernur tersebut intinya menyebutkan PBB dikembangkan untuk wisata budaya, wisata agro, dan wisata air sekaligus sarana informasi, penelitian dan pengembangan seni budaya khususnya Betawi. Definisi PBB menurut masterplan adalah lokasi di mana dapat ditemukan dan dinikmati kehidupan bernuansa Betawi berupa komunitas Betawi, keasrian alam Betawi, tradisi Betawi serta sumber informasi ke Betawian. "Tapi, PBB bukan berarti menjadikan kehidupan orang Betawi jadi tontonan wisatawan. Perkampungan selalu berkembang, seperti juga Iptek. Jadi, konsepnya adalah menjadikan tiap rumah sebagai 'home stay' khususnya untuk mereka yang ingin belajar budaya Betawi," katanya. Dia menegaskan, PBB sama sekali bukan seperti masyarakat "Amish" di Amerika Serikat yang merupakan komunitas yang sengaja hidup dengan teknologi dan budaya abad 18 serta anti modernisasi. Ia mencontohkan Dinas Perumahan merehabilitasi 32 rumah penduduk menjadi rumah khas Betawi dengan menambahkan plang "gigi balang" dan langkan (teras), sedangkan Dinas Pertanian dan Kehutanan membina potensi wisata agro lalu Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan membina potensi wisata perikanan. Ada pula Dinas PU yang memiliki tanggung jawab mengeruk situ Babakan dari 16 hektar menjadi 32 hektar, demikian pula untuk situ Mangga Bolong yang luasnya kini 14 hektar. Dalam Memoranda Anggaran APBD DKI Jakarta 2003, terdapat beberapa dinas yang memiliki kegiatan di PBB seperti Dinas Kebudayaan dan Permuseuman yang menganggarkan Rp3,85 miliar, sebagian besar untuk pembangunan lanjutan Masjid Baitul Makmur dan Masjid Attaubah dan sosialisasi Raperda PBB. Dinas Pertamanan pada APBD 2003 menganggarkan Rp200 juta untuk pengembangan taman Setu Babakan sedangkan Dinas Perumahan menganggarkan Rp1,5 miliar untuk perbaikan rumah dan pembangunan jalan di sekitar Setu Babakan. Sudin Pertamanan Jaksel menyediakan Rp75 juta untuk peningkatan Jalur Hijau Jalan Kahfi I sedangkan Sudin PU Jaksel menganggarkan Rp200 juta untuk saluran PHB outlet Setu Babakan dan Sudin Kebudayaan dan Permuseuman Jaksel menyediakan Rp200 juta untuk pergelaran kesenian di teater PBB. "Koordinasi menjadi masalah serius, misalnya saja pada tahun 2001, dua dinas menanam pohon di lokasi yang sama tanpa saling koordinasi. Lalu ada dinas yang mendayagunakan setu untuk perikanan padahal dinas lain sedang bersiap menggunakan setu untuk proyek mereka," kata Imron. Kurang koordinasi juga terjadi antara Dinas Kebudayaan dan Permuseuman dengan Sudin Jaksel sehingga untuk 2003 tidak ada anggaran rutin untuk sekretariat PBB. "Paling cocok jika PBB berada di bawah suatu badan pengelola, untuk menentukan unsur pemerintah dan masyarakat yang duduk di BP itupun akan melalui berbagai perdebatan," kata Imron. Dia menjelaskan jika BP PBB itu didominasi unsur pemerintah maka timbul kesan "top down" dan BP hanyalah pembuat proyek, sedangkan jika dilepas ke masyarakat, mereka belum dapat membiayai kegiatan pembangunan PBB. "Belum lagi kalau swasta diajak partisipasi, pasti timbul kekhawatiran masyarakat akan ditinggal karena swasta pasti 'profit oriented'," kata Imron yang sehari-harinya guru. Kurangnya koordinasi seperti yang digambarkan Imron boleh jadi akan menjadi masalah besar di kemudian hari, karena itu dalam Raperda PBB disebutkan tentang lembaga khusus yang mengelola kawasan tersebut. "Raperda PBB sudah kami selesaikan, kami berharap secepatnya dibahas DPRD lalu disahkan agar keberadaan PBB benar-benar terjamin," kata Kepala Subdinas Pengawasan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Candrian Atahyat. Selain menyebutkan tentang suatu badan untuk mengelola PBB, Raperda tersebut juga memuat ketentuan tentang pelestarian lingkungan termasuk bangunan di kawasan tersebut. Menurut Candrian, selama ini Pemprov hanya dapat mengimbau masyarakat setempat agar menggunakan arsitektural Betawi jika membangun atau merenovasi rumah. "Saat mengajukan ijin membangun atau renovasi, warga akan mendapat advis teknis, bagaimana sebaiknya renovasi atau pembangunan itu menampilkan arsitektural betawi," katanya. Salah satu yang diusulkan dalam Raperda, adalah kemungkinan adanya insentif tertentu bagi warga yang menata lingkungannya sesuai rencana PBB. Insentif itu dapat berupa bantuan dana maupun kemudahan saat mengurus surat-surat bangunan, kata Candrian.(Publikasi ANTARA)
Posted at 03:03 pm by ahmad buchori
Permalink
Monday, September 06, 2004
Wayang adalah salah satu khazanah budaya tanah air yang banyak ditemui di berbagai daerah, terutama di Jawa. Wayang yang amat dekat dengan masyarakatnya, kerap dimanfaatkan sebagai media penyebar berbagai informasi. Wayang, tumbuh dan berkembang seiring dengan masyarakatnya, ia mampu merubah bentuk dan tetap mendapat tempat, sekecil apapun itu.
Jakarta, sebagai pusat negara, juga memiliki seni tradisional wayang. Orang banyak menyebutnya dengan wayang kulit Betawi. Jenis kesenian di Betawi ini, konon lahir ketika Sultan Agung dari Kerajaan Mataram menginjakkan kakinya di tataran Sunda Kelapa. Selain membawa pasukan, turut pula rombongan kesenian wayang kulit.
Ternyata tampilan wayang dari Mataram ini begitu memukau penduduk setempat, khususnya yang berdiam di kawasan Tambun, Bekasi. Kemudian muncullah satu bentuk baru dari wayang kulit Jawa, yaitu wayang yang berbahasa Melayu Betawi, Wayang Kulit Betawi.
Seperti halnya seni wayang lain, wayang kulit Betawi memilik tokoh sentral, seorang dalang.
Sebagaimana lazimnya, wayang kulit Betawi ini juga menggunakan kelir, yang disini disebut "kere". Alat musik pengiringnya terdiri dari kendang, terompet, rebab, saron, keromong, kecrek, kempul dan gong. Yang tampak lain dalam wayang kulit Betawi adalah, masuknya unsur Sunda yang kental. Meski dialog dengan bahasa Betawi, namun musik pengiring hingga lantunan lagunya berasal dari tanah Pajajaran.
Sepintas, tak ada perbedaan yang berarti dengan wayang kulit lainnya. Hanya barangkali bentuk gapit atau pegangan wayang, pada wayang kulit Betawi tak dijumpai bahan tanduk, namun menggunakan rotan. Wayang kulit Betawi juga didominasi warna merah cerah.
Lakon yang sering dimainkan adalah carangan, cerita yang disusun sendiri oleh dalang dengan tokoh-tokoh dari cerita Mahabharata. Cerita lain khas Betawi adalah Bambang Sinar Matahari, Cepot Jadi Raja dan Barong Buta Sapujagat. Umumnya, cerita yang dimainkan sangat kontekstual dengan keadaan masyarakat sekitar. Oleh karena itu, wayang kulit Betawi penampilannya lebih bebas, lebih demokratis. Logatnyapun akrab dengan masyarakat Betawi, dan dialog yang ditampilkan menggunakan bahas Indonesia pergaulan, mudah dipahami segala lapisan masyarakat dari berbagai suku.
Hanya saja, orang Betawi diyakini hanya menggemari cerita yang seru dan lucu, sehingga kedua lakon inilah yang kerap dikedepankan para dalangnya. Ada perang dan kaya banyolan.
Walau tampilannya begitu komunikatif, wayang kulit Betawi tak sepopuler wayang kulit Jawa. Selama ini, wayang kulit Betawi hanya dimainkan di daerah pinggiran, lokasi asal tumbuhnya wayang kulit Betawi. Sepanjang perjalanan riwayatnya, wayang kulit Betawi tampil dengan penuh kesederhanaan, sehingga boleh dibilang menepikan aspek estetika, moral dan falsafah.
Di balik kesederhanaan tampilannya, wayang kulit Betawi justru sebenarnya memiliki peluang untuk tumbuh. Ia memiliki kekuatan dalam penggunaan bahasa. Selama ini, bahasa kerap menjadi halangan untuk mengenal seni wayang. Pada wayang kulit Betawi, tidak. Ia justru kekuatan. Tinggal sang dalanglah yang mengemasnya menjadi sebuah tontonan memikat. (Ahmad Buchori, diolah dari Indosiar.com)
Posted at 04:45 pm by ahmad buchori
Permalink
Sunday, September 05, 2004
"Elu kok belon berangkat ke rumah encang lu, bawain kue nyang tadi dibeli emak?" tanya mpok kepada adiknya. "Ntar, jam 12-an,mpok" jawab si adik. "Luh mao ngapain di sono jam segitu. Luh tau enggak, sedekahannya kan ba'da lohor, artinye luh mesti di rumah encang sekitar jam 11-an, bantu nyiapin makanan buat sedekahan," kata si mpok panjang lebar. "Ooh gitu ye...iya dah mpok, aye berangkat sekarang yee..," jawab si adik.
Ba'da lohor, barangkali merupakan ukuran waktu yang sering kali diucapin sebagian masyarakat Betawi. Tapi terkadang ngebingungin, khususnya buat generasi mudanya. Kebiasaan menyebut ukuran waktu tertentu seperti ba'da lohor, biasa dipake buat nunjukin kapan suatu kegiatan dilaksanakan. Tidak ada kepastian jam, namun biasanya masyarakat yang make ungkapan itu paham kapan suatu kegiatan itu dilaksanakan. Generasi muda Betawi saat ini, biasanya pake jam buat nunjukin ukuran waktu tertentu. Mereka jarang ngegunain ba'da lohor untuk nunjukin waktu seusai shalat lohor. Mereka lebih suka make misalnya jam setengah satu atau jam satu. Buat mereka terkadang muncul pemahaman bahwa ba'da lohor itu kan bisa diartikan sesudah lohor yang artinya bisa ashar, bahkan maghrib atau kalau menggunakan jam, artinya bisa jam setengah empat atau jam enam malam. Jam buat generasi muda betawi sepertinya lebih pasti. Belum diketahui kenapa orang Betawi pada tempo dulu sampai menggunakan ungkapan itu. Jangan-jangan karena pada saat itu, jam merupakan barang mewah dan jarang yang punya. Jadi, mereka menggunakan ukuran waktu shalat atau suasana pada saat itu seperti tengari bolong. Tentang kepastian jam berapanya, mungkin karena sering digunakan lalu muncul kesepakatan secara alami. Jadi, buat mereka tidak ada masalah. Apalagi, dalam kegiatan tertentu misalnya kumpul sebelon ngebesan, terkadang dibantu dengan memasang petasan. Nah, masalahnya sekarang adalah masih perlu enggak sih kita pake ungkapan seperi itu? Kayaknya sih sebaiknya kita, yang muda-muda, tetap pake ungkapan seperti itu. Kan udah tradisi orang Betawi. Sayang kan tradisi yang sudah menjadi ciri khas Betawi enggak dipakai, bisa-bisa nanti dilupain. Kan kita sekarang udah banyak jam dan gimana dengan kepastian jamnya kalo kita gunain ungkapan kayak gitu. Yaah..mungkin kalo kita sering pake lama-lama juga paham. (Ahmad Buchori)
Posted at 02:09 am by ahmad buchori
Permalink
Friday, September 03, 2004
LENONG, MO DIBAWA KEMANE?
"Mpok, mo kemane? Menor bener dandannye!"
"Biase, ke Taman Mini, Bang. Nonton lenong."
"Lenong preman ape denes?"
"Ape aje, asal lenong. Abis, kalo bukan kite yang ngeramein, siape lagi?"
Si mpok memang layak miris. Tak seperti demo pro dan anti-Gus Dur yang selalu dihadiri ribuan orang. Pertunjukan lenong, salah satu teater rakyat khas Betawi yang kaya dengan dialog-dialog spontan lagi kocak, belakangan mirip kuburan, sepi pengunjung. Ibarat lampu colen (obor yang dulu sering digunakan untuk menerangi panggung lenong), nyalanya mulai redup.
Padahal, lewat kotak ajaib bernama televisi, di tahun 70-an hingga awal 80-an, lenong sempat jadi primadona. Dari mulut para komedian alamnya, seperti H. Bokir, Nasir T, Anen serta Mpok Siti, dialek Betawi menyebar ke seantero Nusantara. Posisinya saat itu, barangkali mirip kelompok lawak Srimulat dan beragam ludruknya kini. Alat pelepas penat yang sangat dinanti dan tentu saja, digemari.
Direvitalisasi TIM
Lenong sebagai tontonan, sudah dikenal sejak 1920-an. Almarhum Firman Muntaco, seniman Betawi terkenal, menyebutnya kelanjutan dari proses teaterisasi dan perkembangan musik Gambang Kromong. Jadi, Lenong adalah alunan Gambang Kromong yang ditambah unsur bodoran alias lawakan tanpa plot cerita.
Kemudian berkembang menjadi lakon-lakon berisi banyolan pendek, yang dirangkai dalam cerita tak berhubungan. Lantas menjadi pertunjukan semalam suntuk, dengan lakon panjang utuh, yang dipertunjukkan lewat ngamen keliling kampung. Selepas zaman penjajahan Belanda, lenong naik pangkat, karena mulai dipertunjukkan di panggung hajatan. Baru di awal kemerdekaan, teater rakyat ini murni menjadi tontonan panggung.
Saat itu, dekornya masih sangat sederhana, berupa layar sekitar 3x5 meter bergambar gunung, sawah, hutan belantara dengan pepohonan besar, rumah-rumah kampung, laut dan perahu nelayan serta balairung istana dengan tiang-tiangnya yang besar. Alat penerangannya pun tradisional, berupa colen, obor tiga sumbu yang keluar dari ceret kaleng berisi minyak tanah. Sebelum meningkat jadi petromaks.
Walaupun terus menyesuaikan diri dengan maunya zaman, untuk terus survive, lenong harus berjuang keras. Dan ini tak mudah. Tahun 60'-an, masih dengan mengandalkan durasi pertunjukan semalam suntuk dan konsep dramaturgi sangat sederhana, lenong mulai kedodoran. "Rasanya, kami seperti berada di pinggir jurang," cetus S.M Ardan, sastrawan dan sineas Betawi yang kini aktif di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta.
Itu sebabnya, tahun 70-an, bersama para dedengkot Taman Ismail Marzuki (TIM), seperti Sumantri Sostrosuwondo dan Daduk Jayakusumah (keduanya almarhum), Ardan dan Ali Shahab (beken lewat "Jin Tomang") bertekad menggaet lenong ke tempat terhormat, lewat revitalisasi lenong. Intinya, memberi kesempatan manggung sebanyak-banyaknya buat para seniman kocak itu. "Agar nama mereka ikut terangkat," terang Ardan lagi.
Di TIM, durasi lenong yang semalam suntuk disunat jadi tiga jam saja. Selain itu, dramaturgi sederhana ikut diperkenalkan kepada pemain. "Kami mulai mengajarkan dialog, artikulasi, frasa, nuansa dan bloking sebagai bagian dari dinamika pementasan," cerita Ali Shahab. Sebagai art director, dia juga memperkenalkan tata panggung yang lebih realistis. Mulai pemakaian make-up untuk menggantikan cemongan dan bedak, pemasangan hair creppe buat kumis dan jenggot, hingga special effect untuk darah dan luka.
Selama beberapa tahun, lenong ngetrend di TIM dan tempat-tempat pertunjukan lainnya. Anak lenong seperti Bokir, Nasir, Anen, Nirin, M.Toha, Bu Siti, Naserin ikutan beken. Kehidupan mereka pun terangkat lewat tawaran iklan, penampilan di TVRI, bahkan main film layar lebar.
Dibedakan pakaian
Tapi, jangan salah, lenong sendiri banyak macamnya, Cing. Drama rakyat yang populer di TIM dan TVRI, dengan lakon bertemakan cerita sehari-hari seperti rakyat yang tergencet pajak tuan tanah, disebut Lenong Preman. Alasannya gampang, karena pakaian para pemainnya tidak ditentukan sang sutradara. Jadi, boleh pakai baju sesuka hati, asal tak melenceng dari peran.
Di ujung cerita, biasanya muncul jagoan dari kalangan santri (pendekar taat beribadah) yang bertindak sebagai pembela rakyat. Ali Shahab menyebut para jawara itu berkarakter Robin Hood, merampok orang kaya guna menolong si miskin. Nah, karena penonjolan peran jagoan-jagoan itulah, Lenong Preman dinamai juga Lenong Jago.
Jika ada pemain berpakaian preman, mestinya ada juga yang berbaju resmi. Orang Betawi menyebutnya pakaian denes (dinas, red). Sayang, perkembangan Lenong Denes tak seharum rekan-rekannya di kelompok Preman. Barangkali, karena butuh modal besar untuk tampil di panggung. Maklum, pemainnya harus pakai seragam sesuai tuntutan cerita, yang sebagian besar bertutur tentang kisah-kisah 1001 malam.
Pada dasarnya, Lenong Preman dan Denes memang cuma dibedakan dari pakaian yang dikenakan. Karena pakem-pakem lainnya tetap seragam. Seperti aturan bahwa pemain harus masuk dari sisi kanan panggung dan keluar dari sisi kiri. Serta pakem terpenting yang tak bisa ditawar-tawar, musik pengiring gambang kromong. "Di luar itu, ya bukan lenong," tegas Ardan.
Gambang kromong sendiri mirip perlengkapan band, terdiri atas berbagai instrumen. Berturut-turut gambang (alat musik dengan banyak sumber suara, terdiri dari 18 buah bilah terbuat dari kayu. Dikenal juga dalam tradisi Jawa dan Sunda), teh yan (semacam rebab berukuran kecil, berasal dari Cina), kong an yan (rebab berukuran sedang, juga berasal dari Cina), shu kong (rebab berukuran besar dari Cina), ning-nong (mirip gamelen Jawa dan Sunda, terbuat dari perunggu).
Selain itu, masih ada kemong (sejenis gong kecil, mirip gamelan Jawa atau Sunda), kromong (gamelan yang dapat menghasilkan 10 sumber suara), kecrek (bilah perunggu yang diberi landasan kayu untuk dipukul-pukul, sehingga berbunyi crek,crek), serta kendang (tambur dengan dua permukaan, berasal dari Jawa, Sunda atau Bali).
Toh, Ardan bisa mentoleransi daerah tertentu, terutama pinggiran Jakarta (perbatasan dengan Bekasi dan Bogor), yang memang tidak memiliki tradisi gambang kromong. Melihat sejarahnya, gambang kromong konon berasal dan berkembang di Betawi Tengah, seperti kawasan Tanah Abang, Senen, Salemba, Jatinegara dan sekitarnya.
Di pinggir Jakarta, "Mereka tetap mempertahankan pakem asli lenong, kecuali musik pengiringnya yang diganti tanjidor," jelas Ardan. Kok tanjidor? "Karena musik jenis itulah yang berkembang pesat dan menjadi jati diri masyarakat Betawi pinggir," tegas Ardan. Buat gampangnya, lenong jenis ini kemudian dinamai jinong, kependekan dari tanjidor dan lenong.
Nebeng, tapi diterima
Gencarnya "kampanye lenong" di TIM dan TVRI, bukan hanya membawa dampak positif buat mata pencaharian pelakonnya. Tapi juga menyebarkan pengaruh, orang Betawi menyebutnya sebagai "hikmah budaya", yakni merasuknya dialek Betawi ke seluruh nusantara. Memang, "hasil finalnya" tak seperti bahasa Betawi baku yang sering terdengar di pemukiman.
Tapi berkembang lagi menjadi "bahasa metro", karena sudah bercampur dengan idiom-idiom bahasa Indonesia dan daerah tertentu. Toh, Bokir, Nasir, Bu Siti atau Mandra bisa dibilang sukses mensosialisasikan dialek 'kampung" itu, bahkan "mengangkatnya" menjadi bahasa pergaulan remaja.
Pengaruh lain, berdirinya teater-teater pop yang ke-Betawi-Betawian. Seperti Teater Mama (Mat Solar) dan Teater Mira (Nazar Amir) di tahun 80-an, maupun yang muncul dan ngetop di era 90-an, Lenong Rumpi dan Lenong Bocah. Produk-produk yang nebeng kepopuleran lenong ini terbukti bisa diterima masyarakat, meski masa kejayaannya terbatas.
"Kalau sementara pihak menanyakan kenapa Lenong Rumpi tidak seperti lenong tradisional, ya karena Rumpi adalah lenong modern yang lebih berorientasi pada produk hiburan, istilah kerennya product show-biz," bela Harry De Fretes, juragan Lenong Rumpi, saat grupnya mulai menduduki rating tinggi di RCTI, sekitar tahun 1991.
Maklum, saat itu ia diserang habis-habisan, karena dianggap "melecehkan" dunia perlenongan. "Apakah dengan berpikir bisnis, konvensi lenong kemudian ditinggalkan? Seperti musik pengiringnya yang harus gambang kromong, serta pemain masuk dari pintu kiri dan keluar dari pintu kanan. Perubahan boleh-boleh saja, tapi harus tetap berakar pada nilai-nilai tradisi," kritik Firman Muntaco dalam sebuah seminar di kampus Universitas Indonesia, 1991.
Sampai kini, kontroversi masih berlanjut. Sayangnya, sang teater rakyat malah terus tenggelam. Frekwensi pemunculannya di televisi mulai jauh berkurang, sementara panggung hajatan mulai enggan mengundang, barangkali karena nama lenong sudah kelewat besar buat menghibur acara kawinan. "Pamornya memang sedang meredup," terawang S.M Ardan.
Lenong Preman masih mendingan, karena terkadang masih ada jadwal mentas di Anjungan DKI TMII. Tapi Lenong Denes? Pertunjukannya makin langka, seiring berkurangnya minat para "penanggap". Tak heran jika pemain lenong muda merasa asing dengan konsep Denes ini. Di sisi lain, pemain yang dulu menggerakkan Lenong Denes, satu persatu dimakan usia, tanpa sempat menyiapkan pengganti.
Ulang Tahun Jakarta, Juni 2001 ini mestinya jadi momen yang pas untuk kembali memikirkan kelanjutan hidup teater rakyat yang tengah redup. Mengulang langkah revitalisasi boleh-boleh saja. Tapi sebagai pelakon, M. Toha, Bokir atau Nasir, ternyata punya pikiran jauh lebih ke depan.
"Dari dulu, katenye DKI (pemda, Red) mo bikin gedong tempat seniman-seniman Betawi maen. Tapi sampe sekarang, cuma janji doang," koor mereka senada. Padahal, seperti dibilang Ridwan Saidi, lenong adalah tontonan sarat muatan moral. Bahwa si jahat, sampai kapan dan sekuat apapun, harus takluk pada kebenaran. Namun, tetap disampaikan dengan canda, hingga tak membuat merah telinga. Sungguh pas jika dipraktikkan para elit politik yang kini sedang "berperang". (Muhammad Sulhi) --INTISARI (on the net) Juni 2001.
Posted at 02:57 pm by ahmad buchori
Permalink
Tuesday, August 31, 2004
SAMBRAH, PERPADUAN SENI BETAWI DAN MELAYU YANG TERLUPAKAN
Tak berlebihan rasanya bila dikatakan, nasib kesenian tradisional Betawi kini tidak ubahnya pakaian pesta yang hanya dikenakan satu tahun sekali untuk memeriahkan pesta ulang tahun Jakarta. Di saat-saat lain, kesenian itu bagaikan terlupakan, sepi dari perhatian banyak orang.
Salah satu kesenian tradisional yang mengalami nasib demikian adalah Sambrah. Padahal, kesenian itu muncul dari kawasan yang akrab dikenal hampir semua warga Ibu Kota seperti Tanah Abang di Jakarta Pusat, tempat pasar tekstil terbesar Jakarta berada. Sambrah, sebenarnya merupakan gabungan seni musik Betawi, Arab, dan India. Di abad ke-18, Tanah Abang yang sudah menjadi kawasan pusat perdagangan banyak dihuni oleh pedagang dari berbagai tempat, kebanyakan dari Betawi, Arab dan India. Mereka menggabungkan seni musik asal daerah masing-masing, yang kemudian menghasilkan apa yang kini dikenal sebagai Sambrah.
”Sudah adat orang Betawi, kalau malam terang bulan, berkumpul, bermain musik dan bernyanyi beramai-ramai. Itu dikenal sebagai acara bertukar pantun. Alat musiknya hanya gendang dan tamborin. Kemudian orang Arab datang membawa gambus, orang Melayu membawa biola dan orang India membawa harmonium. Jadilah Sambrah,” kata pemimpin kelompok seni Sambrah Betawi Rumpun Melayu, M. Ali Sabeni.
Sabeni sendiri mengaku mempelajari Sambrah sejak masih anak-anak. Masih mengenakan celana pendek. Ali Sabeni, yang merupakan salah satu anak dari pendekar sekaligus tokoh Betawi Tenabang bernama Sabeni, dengan minat besar terus mengikuti kelompok Sambrah yang tengah diundang bermain di suatu tempat. Akhirnya, pada usia 18 tahun, anak ketujuh dari 12 bersaudara itu membentuk kelompok seni Sambrah sendiri.
Dulu, lanjut Sabeni, pemain Sambrah banyak ditemui. Pertunjukan Sambrah pun selalu dilakukan dengan pakem yang lengkap, dengan penari yang menarikan tarian khas Sambrah seperti tari burung putih. Alat musiknya pun relatif lebih lengkap.
Tentu, sambutan masyarakat terhadap kesenian itu juga lebih besar. Sambrah bisa dipastikan selalu hadir menyemarakkan pesta-pesta perkawinan dan berbagai hajatan lain. Bak garam dalam makanan maka pesta masyarakat elit Betawi serasa hambar tanpa kehadiran Sambrah.
Namun, masa keemasan Sambrah pupus dimakan perkembangan zaman. Masyarakat Betawi beralih ke jenis musik lain di antaranya Gambus dan Dangdut, yang menurut Ali Sabeni adalah turunan dari Sambrah sendiri.
Gendang yang dipakai sebagai instrumen utama di musik dangdut adalah berasal dari tipe gendang di Sambrah. Begitu halnya, gitar gambus yang awalnya menjadi instrumen ”wajib” di Sambrah malah ‘pulang-kandang’ ke jenis musik aslinya yang beraliran Timur-Tengah dengan lagu- lagu kebanyakan berbahasa Arab.
Sepi Perhatian
Kini, masa itu sudah berlalu. Pemain Sambrah sudah teramat jarang ditemui. Ali Sabeni bahkan mengatakan, bisa dibilang hanya tinggal kelompoknyalah pemain Sambrah yang masih tersisa. Itu pun tak lagi lengkap.
Para penarinya kini tak lagi bersedia ikut bermain karena sudah berkeluarga, sementara tak ada penari pengganti. Alat musiknya pun sudah banyak rusak, dan tak ada pengganti. Kelangkaan pemain jenis musik ini berimbang dengan alat musiknya.
Sepinya perhatian terhadap kesenian Betawi itu juga dirasakan oleh M. Ali Sabeni. Ini pula yang menyebabkan kelompoknya tak hanya memainkan lagu- lagu lama asli Sambrah tapi sejumlah lagu- lagu barat terkenal atau berlirik Latin pun fasih dibawakan kelompok ini sebagai kiat agar diingat.
”Memang, saya juga prihatin. Kayaknya gimana ye, kurang begitu diperhatikan. Ibaratnya, kita berbuat buruk dicaci maki, tapi kalau kita berbuat baik, ya dipuji tapi nggak diperhatikan. Padahal diperlukan juga. Makanya, bingung juga saya, kok begini,” keluhnya tentang sepinya perhatian masyarakat terhadap nasib seni tradisional Betawi.
Kondisi memprihatinkan itu tentu sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup kesenian Sambrah. Kelompok seni Sambrah Rumpun Melayu bisa dikatakan tak mampu lagi memperbaiki alat-alat musiknya yang rusak, atau membeli alat musik yang belum dimiliki. Bahkan sekedar seragam pemain musiknya pun tak terbeli.
”Seharusnya pemain Sambrah itu memakai seragam baju dan celana warna putih. Tapi karena nggak ada uang, akhirnya ya kita pake baju seadanya saja,” tutur Sabeni sambil menunjuk para pemain musik kelompoknya yang mengenakan baju koko warna putih dan celana panjang warga gelap.
Alat musik yang dimiliki kelompok Sambrah Betawi Rumpun Melayu juga banyak yang rusak, dan belum tergantikan. Beruntung, Sudin Kebudayaan dan Permuseuman Jakarta Timur menyumbang sebuah gitar.
Meski terseok-seok, Sabeni mengatakan hal itu tak mengubah niatnya untuk terus melestarikan kesenian Sambrah. Suatu ketika nanti kesenian itu akan kembali digemari masyarakat. Untunglah, sanak- sudara dan keturunannya juga masih ada yang mau menggeluti jenis musik yang diakrabinya itu.(SH/3 Juli 2004)
Posted at 01:43 pm by ahmad buchori
Permalink
Friday, August 27, 2004
Ondel Ondel Nyok, kite nonton ondel-ondel Nyok, kite ngarak ondel-ondel Ondel-ondel ade anaknye Anaknye ngigel ter-iteran
Mak, bapak ondel-ondel ngibing Ngarak penganten disunatin Goyangnye asyik endut-endutan Nyang ngibing igel-igelan
* Plak gumbang gumplak plak plak Gendang nyaring ditepak Yang ngiringin nandak Pade surak-surak....
Tangan iseng ngejailin Kepale anak ondel-ondel Taroin puntungan Rambut kebakaran....
Anak ondel-ondel jejingkrakkan Kepalenye nyale bekobaran Yang ngarak pade kebingungan Disiramin aer comberan....
--------------------------------------------------------------------------------
Indonesia's cultural diversity is celebrated in the national motto, Bhineka Tunggal Ika, meaning "Unity in Diversity." One manifestation of this tenet of Indonesian national identity is the government's efforts to give equal precedence to the development of traditional art forms from each ethnic group. In Jakarta, the Orang Betawi - the natives of the city - are considered to be the hosts of these cultures, having emerged from the melting pot of races, ethnic groups and cultures of Indonesia in the 19th century. Today they constitute one of the city's main ethnic groups along side the Javanese (from Central and Eastern Java), Sundanese (from West Java) and Chinese.
Betawi culture is a treasure trove of color, tradition, song, dance, clothing, cuisine, language and dialect. The culture thrives today due to government policy to enhance the cultural identity of the original inhabitants of the city, and prevent their traditions being buried beneath a tide of modernization. There are annual parades and other celebrations in which three-meter tall Betawi mascots (ondel ondel) - are seen delighting the crowds with their large masks and tinsel-sprinkled headdresses.
The language of the Betawi has been adopted by the fashionable younger generation of Jakartans from all ethnic origins, whereas the more formal Betawi Malay is only spoken by the more conservative older generation Orang Betawi.
Jakarta has indeed marvelous appeal. Why not? Its function as the capital city of Indonesia has foster its development to become the center of administration, trade and industry, as well as agriculture. Jakarta becomes the estuary of urbanization flow from all over the country and from other countries alike. Diverse cultural aspects brought by those people have made Jakarta become more and more appealing. It is like a display case showing its glittering jewels. Like a towering gate, Jakarta has attracted countless number of people who turned out to be its residents.
For more than four centuries, the flow of urbanization to Jakarta has never stopped. Even up to present moment, the number of population keeps on getting higher, making Jakarta become a densely populated city. In its early development, Jakarta was inhabited by people hailing from java, Bali, Maluku, Malay, and other regions. Then came the Chinese, Arab, Portuguese, Dutch, and many others. Each brought their own unique culture. The languages they used among the community were Malay and Creole Portuguese, with heavy influence from the Portuguese for over a century in doing their business and in occupying the regions throughout the Indonesian archipelago.
From time of time, the Betawi continued to grow with their firm foothold of cultural characteristics, in that they can be easily distinguished from other ethnical groups. When one looks at Betawi cultural surface. One can recognize the origin of such cultures. It is not unlikely that Betawi performing arts often show similarities to arts from some other ethnic groups and even from those of other nations.
To the Betawi, all that has developed within their culture is considered as their whole culture, without questioning the origin of such cultural backgrounds that made Jakarta as it is now. Likewise, their attitude toward arts as one of the facets in their culture reflects the strong Betawi influence, especially in their performing arts.
Unlike arts from palaces which were created by nobility artist whose dedication to arts is undeniable, The Betawi arts spontaneously grew within the people themselves with all their modesty. Therefore the Betawi arts belong to the folklore.
One of the Betawi performing arts which is often performed in folk festivities is Ondel-ondel. A huge male or female puppet. It seems that ondel-ondel plays the role of their ancestors who guard their offspring or a community in a village. Ondel-ondel is a huge puppet of approximately 2.5 meters high with a diameter about 80 centimeters. It is made from woven bamboo designed in such a way that is easy to carry it from underneath. Its face is a mask, adorned with fine black fibers to represent the hair. The face of a male ondel-ondel is painted in red, while that of the female is white. The performance is similar to may folk performance from other places.
In Central Java Barongan Buncis; and in Bali, Barong Landung. It is assumed that this Kind of performance from other places. In Sunda (West Java), it is called Badawang Landung. It is assumed that this kind of performance had been existed long before the coming of the Islam religion on the island of Java. Formerly, ondel-ondels were used to scare evil spirits away. At present, ondel-ondels are used to add liveliness of a folk festival, or to welcome distinguished quests, or to decorate the official opening of new buildings. Throughout the years, ondel-ondel have survived and are now used to decorated the Jakarta Metropolitan City.
Traditional Music
In Betawi traditional music, a harmonious combination of local and Chinese rhythms have been reflected in gambang, Kromong, kecrek, gendang , kempul, and gong arelocal instruments, while kongahyan, tehyan, and shukong are string instruments of Chinese origin. The songs performed by the orchestra are not only adapted but also adopted from Chinese rhythm known as pobin, like pobins Kongjilok, Bankihwa, Posilitan, Caicasu, and many others. They are often performed instrumentally.
The creation of gambang kromong oschestra in the middle of the 8th century in Jakarta could not be separated from Nie Hu-kong, a Chinese leader who was known to be a person who loved music. Upon his initiation, it was made possible to assimilate various musical instruments from gamelang pelog and slendro and those from Chinese orchestra. Like Nie Hu-kong, mainly people with Chinese origin could enjoy the songs and dances of the ciokek, local singer who also danced to the music. The ciokeks were usually given names of various sweet smelling beautiful flowers in china, such as Bwee Hoa, Han Siauw, etc. During that time gambang kromong orchestras were owned by the Chinese ethnic groups, also known as the “babahs”, who lived in Tangerang and Bekasi apart from Jakarta itself.
Gambang Kromong is usually performed to accompany folk dances, that is ciokek and a great number of newly created dances like Sembah Nyai and Sirih Kuning. The opening part of a ciokek dance is wawayangan. The dancers stand in line, making the movement of front and back forth. They dance to the music, lifting their hands as high as their shoulders and their feet follow the rhythm. Then they as the audience to dance together with them, by giving their shawls to the most distinguished guests. If the person who receives the shawl agrees to follow the dancer, the couple can the begin dancing in pairs known as “ngibing”. Each pair danse in a very close distance, but they do not touch each other.
Sometimes they do not face each other, giving their backs. If the place is spacious enough, they can make a maneuver in circles. The costumes of Ciokek dancers usually consist of a pair of trousers made of bright colored silk-like materials, such as red, green, violet, yellow, etc. in the lower parts of the trousers are decorated with a piece of cloth, the color of which is harmonious. A piece of cloth is tied to the dancer’s hips, dangling freely. The dancer’s hair is combed neatly; some are typed in a cute looking fashion, with beautiful moving hairpins.
A very strong European influence in one of the Betawi music can be identified in Tanjidor Orchestra with its clarinet, thrombone, piston, trumpet, and the like. Most of those instruments have been used for more than one century long. They probably were once military musical instruments during the Dutch colonial time.
With old musical instruments, Tanjidor orchestra gives performances to accompany “helaran” or marriage processions featuring Western waltzes and marches which are difficult to trace their have been adjusted to suit local musical taste from generation to generation and have been adapted to the memory of the “panjaks‘ Tanjidor was first known in the 18th century.
Valekenier, one of the Dutch Governor Generals during that time, was known to have a group of 15 brass musicians which were combined with gamelan players, Chinese flute players, and Turkish drum players to enliven parties. Because it was originally played by slaves, Tanjidor orchestra was also known as “slavenorkest” At present, Tanjidor orchestras often give their performances to welcome guests or to accompany carnivals.
Another Betawi music heavily infested with European influence is Kroncong Tugu . This sort of music is supposed to find its origin in South Europe. Since the 18th century this music had been enjoyed by the Portuguese descendants who lived in Tugu, North Jakarta, while practicing Christianity. Typical songs of Kroncong Tugu are, among others, Moretsko and Broungga, the lyrics of which are written in Portuguese. The music had been developed by the community who were called “Mardijkers” former Portuguese army members who were set free by the Dutch Government. After they had changed their religion from Catholic to Protestant, they were reserved in Kampung Tugu. This place is now known as the koja District. They built the first church in 1661.
In the former time, apart from being used to accompany gospels, kroncong musical instruments from Tugu remain the same violin, ukulele, banyo, guitar, tambourine, kempul and selo. There is something interesting in their costumes: they always wear shawl around their neck whenever they are giving performances. The female members usually wear kebaya.
The Betawi music originating from the Middle East that reflects Moslem aspirations is Gambus Orchestra. In line with this is the tambourine (rabana) music such as Rebana Biang. Up to now, rebana music is mainly performed by men, while Rebana qosidah is played by women. Rebana qosidah turned out to be a more attractive and popular folk musical performance.
The rebana is called “Ketimpring” maybe because of the sound from the small bells attached to the wooden part of the instrument. If Rebana Ketimpring is used to accompany the bridegroom to the bride’s place, the rebana is then called Rebana Ngarak. The is also smaller type of rebana. The lyrics sung during the event are usually taken from the books of Diba or Diwan Hadroh. Rebana Ketimpring used to accompany family gatherings and social events like circumcisions, births, wedding parties and so on are called Rebana Maulid. It has been a tradition of Betawi to say their prayers revealing the history of prophet Mohammed S.A.W. accompanied by Rebana Maulid. The lyrics is known as “Berjanji” for it was taken from the book of Syaraful Anam writtem by Syeikh Barzanji.
Rebana Biang, apart from its initial function to accompany fast tempo music known as “Zikir “, is also often performed to accompany Belenggo Dance. Like other dances, Belenggo dance does not have rigid rules. Its movements depend on how much the the dancer knows about Betawi arts martial. The dance is usually performed by members of Rebana Biang themselves. If in the former times Belenggo dance was performed for social events, it is now often performed with a firm party in front of a huge audience. In addition, this orchestra has is function to accompany Topeng Belantek, a kind of folk theater commonly played by the Betawi living in the southern fringe of Jakarta.
Samrah Orchestra came from Malay as reflected in the songs usually sung in this orchestra, such as Burumg Putih, Pulau Angsa Dua, Sirih Kuning, and Cik Minah which are heavily influenced by Malay rhyhm. Typical of Betawi songs are Kicir-kicir, Jali-Jali, Lenggang-lenggang Kangkung, and so on. The orchestra accompanies Samrah Dance, a dance influenced by Malay dance movements with some maneuvers from art martial. Normally, it is performed in the expressed by sad and humble remarks about one self remarks about oneself. A Betawi dance with is full of maneuvers from arts martial is called Tari Pencak Silat. The dance is accompanied by a traditional percussion bet known as Gendang Penca.
Other accompaniments which are generally performed are Gambang Kromong, Gamelang Topeng, Tanjidor, and the like. Among The Betawi people, there are many types of silat (arts martial) dances, such as Kwitang, Tanah Abang, Kemayoran, etc. The most popular movements are Serak, Pecut, Rompas, and Bandul. Silat dances in Betawi show the types of movement which are adopted by the dancers.
In Gamelang Ajeng, one can detect Sundanese and Balinese influences, like in the song of Carabelan or Cara Bali. Initially, This Gamelang orchestra was mainly performed on formal ceremonies. In its later development, the orchestra can be played to accompany several dances, such as Belenggo Ajeng or Tari Topeng. The orchestra is also intended to accompany Puppet Shadow (Wayang Kulit) and Wayang Wong performances. Wayang Performances were adapted by the Betawi from Javanese.
Another Type of Betawi music influenced by Sundanese cultural is Gamelan Topeng. It is name after the folk theater presently known as Topeng Betawi. The folk theather gained popularity because it coveyed light social critisms wrapped in jokes an homorous remarks. Bapa jantuk is one of the most loved episodes in which marriage advice are presented at the end of the episode.
Traditional Dance
Among the many dances commonly performed in Topeng Betawi is Tari Lipet Gandes, a dances with a songs, jokes and sardonic but funny remarks. Other dances have expressive movements, such as Tari Topeng Kedok Enjot– enjotan and Grgot. These dances at are not only liked Betawi , butr they are also enjoyed by other ethnic groups.
Some creative choreographers are succeeded in the creating new some dances adorned with various movements from traditional Betawi dancers are Tari Ngajoreng, tari Ronggeng Belantek and Gado-Gado Jakarta. Such ads dancers could attracted their audience. They were also perfromed in the International Dance Festival. Some Betawi traditional performing arts have been developed according to the changing society and have added the marvelous appeal of the the city of Jakarta. In the Older to enjoy and appreciate the many Betawi performing arts, there is no other way than attending the performances.
Apart from this, the orchestra also employs waditra instrument to accompany lenong , a famous Betawi tradisional folk theater. To a certain extent, this Betawi theater follows European theaters, complete with its decorations and other properties as a influence of stambul comedy, an western comedy performed in Malay which was popular in the early 20th century.
Nowadays, there are two types of lenong : Lenong Denes depicts episodes on King and nobilities, while Lenong preman depicts on daily social life. Lenong denes can be regarded as the extension of several folk Betawi theaters which are no longer exist nowadays, such as Wayang Sumedar, Wayang Senggol, and Wayang Dermuluk , while Lenong Preman was the later version of Wayang Sironda. The language used in Lenong Denes is the high style of Malay or the classical Malay which makes it more intimate and communicative to the audience. (milis tetangga).
Posted at 04:07 pm by ahmad buchori
Permalink
Tuesday, August 24, 2004
Si Pitung adalah seorang pemuda yang soleh dari Rawa Belong. Ia rajin belajar mengaji pada Haji Naipin. Selesai belajar mengaji ia pun dilatih silat. Setelah bertahun- tahun kemampuannya menguasai ilmu agama dan bela diri makin meningkat.
Pada waktu itu Belanda sedang menjajah Indonesia. Si Pitung merasa iba menyaksikan penderitaan yang dialami oleh rakyat kecil. Sementara itu, kumpeni (sebutan untuk Belanda), sekelompok Tauke dan para Tuan tanah hidup bergelimang kemewahan. Rumah dan ladang mereka dijaga oleh para centeng yang galak.
Dengan dibantu oleh teman-temannya si Rais dan Jii, Si Pitung mulai merencanakan perampokan terhadap rumah Tauke dan Tuan tanah kaya. Hasil rampokannya dibagi-bagikan pada rakyat miskin. Di depan rumah keluarga yang kelaparan diletakkannya sepikul beras. Keluarga yang dibelit hutang rentenir diberikannya santunan. Dan anak yatim piatu dikiriminya bingkisan baju dan hadiah lainnya.
Kesuksesan si Pitung dan kawan-kawannya dikarenakan dua hal. Pertama, ia memiliki ilmu silat yang tinggi serta dikhabarkan tubuhnya kebal akan peluru. Kedua, orang-orang tidak mau menceritakan dimana si Pitung kini berada. Namun demikian orang kaya korban perampokan Si Pitung bersama kumpeni selalu berusaha membujuk orang-orang untuk membuka mulut.
Kumpeni juga menggunakan kekerasan untuk memaksa penduduk memberi keterangan. Pada suatu hari, kumpeni dan tuan-tuan tanah kaya berhasil mendapat informasi tentang keluarga si Pitung. Maka merekapun menyandera kedua orang tuanya dan si Haji Naipin. Dengan siksaan yang berat akhirnya mereka mendapatkan informasi tentang dimana Si Pitung berada dan rahasia kekebalan tubuhnya.
Berbekal semua informasi itu, polisi kumpeni pun menyergap Si Pitung. Tentu saja Si Pitung dan kawan-kawannya melawan. Namun malangnya, informasi tentang rahasia kekebalan tubuh Si Pitung sudah terbuka. Ia dilempari telur-telur busuk dan ditembak. Ia pun tewas seketika.Meskipun demikian untuk Jakarta, Si Pitung tetap dianggap sebagai pembela rakyat kecil. (Milis tetangga/Diadaptasi secara bebas dari Rahmat Ali, "Si Pitung," Cerita Rakyat Betawi 1, Jakarta: PT. Grasindo, 1993, hal. 1-7)
Posted at 11:28 am by ahmad buchori
Permalink
Monday, August 09, 2004
Jakarta sebagai ibu kota negara R.I. merupakan kota terbesar dan paling padat penduduknya di seluruh Indonesia. Jakarta merupakan singkatan dari "Jayakarta", suatu nama yang pernah diberikan oleh Fatahillah ataua Falatehan yang berarti kemenangan yang sempurna.
Dahulu kota ini berasal dari perkampungan kecil dari kerajaan Hindu Taruma Negara, dengan rajanya Purnawarman. Daerah ini kemudian menjadi bagian kerajaan Pajajaran di Jawa Barat sejak tahun 1500, dan dimanfaatkan sebagai pelabuhan kecil yang bernama Sunda Kelapa. Kemudian daerah Sunda Kelapa direbut dan dikuasai oleh Portugis, namun oleh Fatahillah dibebaskan kembali pada tanggal 22 Juni 1527 dan daerah Sunda Kelapa diganti namanya dengan Jayakarta.
Di abad 17 yakni tahun 1619 Belanda dengan VOC nya berhasil merebut dan menduduki Jayakarta dan membangun sebuah kota yang baru disekitar itu diberi nama Batavia, dan nama ini oleh penduduk asli diucapkan Betawi. Kemudian Jepang datang ke Indonesia dan menduduki berbagai wilayah dan kota-kota di Indonesia termasuk Batavia atau Jayakarta. Hanya sekitar tiga setengah tahun Jepang menguasai Indonesia. Dengan perjuangan yang cukup berat bangsa Indonesia dapat membebaskan negaranya dari penjajah dan menyatakan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17-8-1945.
Kemerdekaan Indonesia diproklarmirkan di Jakarta, dan sejak itu pula sebutan Jakarta dipakai secara populer dan dapat menggantikan nama-nama sebelumnya. Sebagai peringatan diusirnya Portugis oleh Fatahillah, maka tanggal 22 Juni secara resmi dinyatakan sebagai hari jadi Ibukota Jakarta.
Kini Jakarta menjadi kota terbesar dengan penduduknya sekitar sembilan juta yang terdiri dari berbagai bangsa dan suku-suku bangsa dari seluruh wilayah Indonesia. Keaneka ragaman ditambah dengan pengaruh bangsa asing melahirkan keaneka ragaman corak seni dan budaya.
Beberapa lamanya daerah ini menjadi tempat berkumpulnya berbagai bangsa dan suku suku bangsa dan bermacam-macam adat istiadat, bahasa dan budaya daerah masing-masing. Berbaurnya suku-suku bangsa dari seluruh tanah air dengan bangsa lain seperti Cina, Arab, Turki, Persia, Inggris dan Belanda mengakibatkan terjadinya perkawinan di antara mereka, sehingga terjadilah perpaduan adat istiadat, budaya dan falsafah hidup hingga melahirkan corak budaya dan tata cara yang baru. Dengan demikian sejak abad ke 19 nampak suatu proto type etnis Betawi. Hal ini tergambar dalam cara dan kesenian masyarakat Betawi di mana ada pengaruh Arab, Cina, Portugis dan lain-lain.
Kini Jakarta yang berpredikat sebagai Daerah Khusus Ibukota, luas wilayahnya 600 Km2 dan secara astronomis terletak diantara 608 'sampai 11045 L.S. dan 94045 ' sampai 94005' B.T. Rata-rata tinggi wilayah dari permukaan air laut kira-kira 7 meter. Di wilayah bagian Selatan keadaan tanahnya lebih subur dibandingkan dibagian Utara, sehingga di daerah ini penduduk asli kebanyakan mata pencaharian utamanya adalah bertani, baik bertani padi, sayur-sayuran maupun buah-buahan.
Dengan perkembangan penduduk yang semakin meningkat, maka tanah-tanah pertanian maupun perkebunan semakin sempit karena dijadikan tempat pemukiman baru. Hal tersebut turut mengubah mata pencaharian penduduk menjadi pedagang, buruh, tukang dan sebagainya. Sedangkan mereka yang bermukim di daerah Utara umumnya menjadi nelayan. Penduduk asli Betawi semakin hari semakin terdesak oleh pendatang dan mereka menyingkir ke daerah pinggiran, Walaupun demikian, ciri kebudayaan mereka tetap menonjol, misalnya dalam pemakaian bahasa yang mereka pergunakan yakni bahasa dialek Melayu Betawi yang khas itu ditiru dan dipergunakan pula oleh penduduk pendatang. Masyarakat Betawi atau Jakarta asli dalam hal susunan masyarakat dan sistem kekerabatanya, pada umumnya menganut sistem patrilineal yaitu menghitung hubungan kekerabatan melalui garis keturunan laki-laki saja. Karena itu mengakibatkan tiap-tiap individu dalam masyarakat memasukan semua kaum kerabat ayah dalam hubungan kekerabatannya, sedangkan semua kaum kerabat ibu di luar garis hubungan kekerabatannya.
Sistem perkawinan pada masyarakat Betawi pada dasarnya mengikuti hukum Islam, kepada siapa mereka boleh atau dilarang mengadakan hubungan perkawinan. Dalam mencari jodoh, baik pemuda maupun pemudi bebas memilih teman hidup mereka sendiri. Karena kesempatan untuk bertemu dengan calon kawan hidup itu tidak terbatas dalam desanya, maka banyak perkawinan pemuda pemudi desa tersebut dengan orang dari lain desa. Namun demikian, persetujuan orang tua kedua belah pihak sangat penting, karena orang tualah yang akan membantu terlaksanakannya perkawinan tersebut.
Biasanya prosedur yang ditempuh sebelum terlaksananya perkawinan adalah dengan perkenalan langsung antara pemuda dan pemudi, bila sudah ada kecocokan, orang tua pemuda lalu melamarnya ke orang tua si gadis. Bila kedua belah pihak setuju, ditentukan hari untuk mengantarkan uang belanja-kawin yang biasanya diwakilkan kepada orang lain yakni kerabat kedua belah pihak. Pada hari yang telah ditentukan, dilakukanlah upacara perkawinan.
Selesai dilakukan akad nikah, pemuda kembali ke orang tuanya, begitu pula dengan si gadis. Beberapa waktu kemudian diadakan upacara besanan, di mana pengantin laki-laki diarak ke rumah pengantin wanita. Dengan melalui upacara kenal jawab dengan irama pantun, diiringi irama rebana dan lagu-lagu marhaban barulah pengantin laki-laki diperkenalkan masuk rumah untuk menemui pengantin wanita dan duduk bersanding sebentar, kemudian pengantin laki-laki berdiri dan bergabung dengan orang-orang tua yang mengantarkan tadi. Sesudah upacara bersama ini maka pengantin wanita dapat mengikuti suaminya kembali ke rumahnya.
Setiap pengantin yang baru menikah, biasanya untuk sementara waktu menetap sekitar pusat kediaman si suami atau disebut adat menetap patrilokal atau virilokal. Selanjutnya mereka pindah dan tinggal di tempat kediaman baru, berarti adat menetap neolokal, tidak ke pihak istri maupun suami. Masyarakat Betawi juga mengenal upacara-upacara yang berkaitan dengan siklus kehidupan seperti upacara kelahiran, peralihan ke masa dewasa dan upacara kematian. Pada orang Jakarta asli memperoleh keturunan merupakan suatu bagian dari perkawinan mereka, yang diharapkan dapat meneruskan keturunan selanjutnya serta mewarisi kekayaan dan keturunan hidup mereka di hari tua. Kelahiran keturunan anak, terutama anak yang pertama dan laki-laki merupakan yang sangat penting, sehingga dilakukan berbagai upacara dan pesta kecil.
Berbagai kesenian tradisional Betawi dapat berkembang dan digemari oleh masyarakat luas, bukan hanya masyarakat Betawi. Kesenian Betawi tersebut antara lain Lenong dan Topeng Blantik. Keduanya merupakan seni drama tradisional. Juga seni tari seperti tari Topeng, Ondel-ondel, tari Ronggeng Topeng dan lain-lain. Seni suara dan seni musiknya adalah sambrah, rebana, gambang kromong, tanjidor dan sejenisnya, bahkan wayangpun ada, wayang kulit Betawi mengunakan bahasa dialek Melayu Betawi.
Masyarakat Betawi umumnya mengenal 4 bentuk arsitektur tradisional bagi rumah adat mereka yaitu rumah tipe gudang, tipe bapang, tipe kebaya dan tipe joglo. Rumah tipe gudang dan bapang mempunyai bentuk segi empat yang sangat sederhana dan polos. Rumah tipe kebaya mempunyai beberapa pasang atap, yang apabila dilihat dari samping kelihatannya berlipat-lipat seperti lipatan kebaya. Sedangkan rumah tipe joglo mempunyai atap yang menjulang ke atas dan tumpul seperti atap rumah joglo di Jawa.
Di Taman Mini Indonesia Indah, anjungan D.K.I. Jakarta mengetengahkan sebuah bangunan modern dengan bentuk unik, yakni tiruan bangunan bagian bawah tugu Monas yang merupakan lambang semangat perjuangan kemerdekaan, sebagai bangunan induknya. Bangunan ini asalnya berada di lapangan Monas di depan Istana Merdeka dan di dalamnya berisikan diorama-diorama tentang Sejarah Nasional Bangsa Indonesia.
Bangunan utama ini merupakan hasil mufakat yang beranggotakan unsur-unsur Intansi dan Dinas Pemerintah Daerah D.K.I. Jakarta di bawah koordinasi Bappeda DKI Jakarta. Bangunan lainnya, lingkungan taman dirancang oleh P.T. Atelier 6. Anjungan DKI Jakarta selesai dibangun dan diresmikan pada tanggal 21 Agustus 1974 oleh Bapak Ali Sadikin, waktu itu baru ada bangunan utama dan taman. Tahun 1979/1980 pembangunannya ditambah dengan sebuah bangunan panggung kesenian, dan pada tahun 1980/1984 anjungan ini dilengkapi dengan rumah Betawi yang berfungsi sebagai cafetaria. Bangunan tiruan monumen Nasional terdiri dari 2 lantai, masing-masing dipergunakan sebagai ruangan pameran. Pada lantai pertama dipamerkan adegan yang menggambarkan aspek kehidupan sosial ekonomi dan budaya masyarakat Betawi tempo dulu, sebagai masyarakat asli Jakarta.
Adegan yang diperagakan dengan diorama antara lain upacara mengiring pengantin sunat dengan hiburan ondel-ondel, upacara adat perkawinan atau duduk nikah Betawi, di mana dalam salah satu tahapan dalam proses ini adalah saat pengantin pria diarak menuju rumah pengantin wanita.
Dalam upacara ini dilengkapi dengan kesenian dari khas musik Betawi yakni rebana atau ketimping sula yang membawa barang-barang antaran. Arakan ini dipimpin satu orang yang merangkap juru bicara, disertai satu orang keluarga dekat pengantin pria, dan seorang bertindak sebagai jagoan. Delman merupakan alat transportasi tradisional tempo dulu ikut dipamerkan pula lengkap dengan kusir dan kudanya serta tukang gado-gado. Di samping itu dipamerkan pula kehidupan ekonomi seperti pasar dan warung di kampung-kampung khas Betawi dengan tukang buah, tukang sayur, pedagang keliling bangsa Cina yang menjual peralatan peribadatan seperti Al Qur'an dan lain-lain.
Di sini dapat disaksikan bagaimana asyiknya orang-orang Betawi yang duduk ngopi dan gobrol di warung, kehidupan nelayan di perkampungan khas Betawi di daerah pantai Utara Jakarta seperti Marunda, kehidupan Teknologi sederhana yakni pandai besi dan kerajinan rakyat khas daerah pinggiran khas Jakarta.
Di lantai dua bangunan induk dipergunakan sebagai ruang pameran yang menggambarkan perkembangan kota dan masyarakat Jakarta dari jaman prasejarah hingga tahun 1975 melalui foto, slide dan lain-lain. Di sini dapat disaksikan lukisan perspektif, foto udara kota Jakarta dengan fokus daerah terpenting, pameran foto rotary panel tentang cuplikan kehidupan anak-anak di Jakarta dan slide / box mini film tentang cupllikan tentang kehidupan sosial masyarakat Betawi.
Selain itu juga dipamerkan pakaian Betawi dalam 3 gaya pada abad ke 19 dan empat gaya lainya seperti Abang None Jakarta, Pengantin Betawi, pakaian sehari-hari dan pakaian jagoan, serta wayang kulit Tambun dan kedok ondel-ondel, kedok penari topeng, peralatan khas musik Betawi, juga peninggalan purbakala di daerah D.K.I. Jakarta.
Bangunan utama yang berfungsi sebagai tempat pameran dilengkapi dengan AC Central, bagian kiri gedung terdapat kantor dan ruang perpustakaan dan bagian depan kanan terdapat toilet umum. Di samping kanan atau di sebelah Barat bangunan utama terdapat bangunan rumah Betawi model kebaya yang diambil bagian mukanya saja.
Rumah ini selain berfungsi sebagai cafetaria juga dipergunakan untuk tempat peragaan industri kecil, sedangkan bagian belakang yakni di sebelah Utara baguanan utama terdapat panggung kesenian merupakan tempat pagelaran kesenian daerah.
Untuk melengkapi bangunan yang ada di anjungan D.K.I. Jakarta, maka di lokasi Taman Buah Taman Mini Indonesia Indah telah dibangun sebuah bangunan rumah adat khas Betawi tipe joglo. Rumah yang berbentuk segi empat dengan atap joglo seperti atap joglo pada rumah Jawa, berukuran 7x15 meter pada areal seluas 4000 m2. Komplek ini diberi nama Sanggar Krida Wanita Jaya Raya atau Sangkrini sebagai aktivitas ibu-ibu PKK dan Dharma Wanita Se- DKI Jakarta dengan lokasi terpisah dari Anjungan DKI Jakarta.
Seperti halnya pada rumah dengan tipe kebaya, rumah tipe joglo inipun dibagian depan terdapat serambi yang merupakan ruang terbuka hanya diberi pagar yang disebut langkan dari kayu jati yang berukir. Serambi atau ruang depan / paseban berfungsi untuk menerima tamu, karena itu di tempat ini disediakan meja marmer dengan beberapa kursi, kursi goyang dan beberapa gambar bernafaskan Islam menghiasi dinding. Berikutnya ruang tamu yang dikhususkan untuk menerima tamu perempuan. Dinding bagian depan dibuat berlipat-lipat sehingga bila dibutuhkan dapat dilipatkan ke pinggir sehingga mendapatkan ruangan yang lebih lebar. Di ruangan ini terdapat perabotan antara lain almari, bufet kaca oval, gambar ayat-ayat suci Al Qur'an dan foto pahlawan Husni Tamrin. Di belakangnya terdapat pengkeng atau kamar tidur lengkap dengan perabotannya. Di belakangnya terdapat Pendaringan yang fungsinya sebagai tempat untuk menyimpan tempayan berisi beras, dan balai-balai kecil untuk meletakkan barang. Di samping pendaringan adalah ruang tapang yakni ruangan kecil dengan balai-balai memiliki fungsi serba guna, dimana tersedia kendi dan peralatan minum lainnya. Sedangkan di samping kiri pendaringan adalah dapur lengkap dengan tungku tradisional dari tanah liat dengan tiga lobang, semprong bambu untuk meniup api serta peralatan lainnya. Bagian paling belakang adalah kamar mandi dan gang tempat masuknya orang ke dalam rumah. Sekali waktu ruang tamu di rumah adat Betawi ini dipergunakan untuk menerima tamu resmi Pemda DKI, untuk istirahat makan siang dengan menyaksikan kesenian khas Betawi. Fungsi bangunan joglo yang dinmai Sanggar Krida Wanita Jaya Raya adalah tempat memperagakan hasil-hasil karya ibu-ibu P.K.K. DKI Jakarta yang dibagi dalam 5 wilayah.
Pada bagian dalam rumah khas Betawi biasanya ada jendela yang diberi terali sebanyak 2 buah di kiri kanan antara serambi (paseban) dengan ruang tamu di dalam. Jendela ini fungsinya untuk mengintip, khususunya bagi yang mempunyai anak gadis yang sudah dewasa apabila ia akan melihat pacarnya datang bertamu ke rumahnya. Di atas pintu terdapat ukiran tembus atau ukiran krawang bermotif bunga-bunga yakni stiliran dari bunga matahari yang melambangkan sinar kehidupan bagi penghubni rumah serta ukiran bunga mawar melati dan lain-lain yang melambangkan keramah-tamahan serta kedamaian si pemilik atau penghuni rumah. Tamu negara yang pertama kali datang ke anjungan DKI Jakarta dan sekaligus menanam pohon beringin adalah Presiden India Fakhrudin Ali Akhmad pada tanggal 27 Mei 1975. (milis tetangga; Publikasi 2001)
Posted at 01:03 pm by ahmad buchori
Permalink
|
|
|